Nasional

4 Hari Terjebak Banjir di Aceh, Dokter Muda Unmul Tetap Layani Pasien Tanpa Henti

Halokubar.com – Empat hari terisolasi di rumah sakit tanpa akses keluar masuk tak membuat dokter muda alumni Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul), M. Ananta Buana, berhenti bertugas. Di tengah banjir besar yang melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh, ia tetap melayani pasien bersama tim medis lainnya.

Ananta menjalani program internsip Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sejak Mei 2025. Penempatannya berada di Desa Rerebe, wilayah terpencil dengan akses jalan rusak dan infrastruktur terbatas.

“Adapun alasan utamanya memilih daerah terpencil Pertama mau coba suasana baru. Kemudian memang karena kita ini jiwa Mandar ya. Jadi jiwa-jiwa perantau sangat kuat kan. Dan mau nambah relasi terutama serta pengalaman,” ujarnya kepada Wartawan Editorialkaltim.com Sabtu (7/2/2026).

Enam bulan pertama ia bertugas di puskesmas sebelum akhirnya rotasi ke rumah sakit pada 20 November 2025. Namun baru sepekan bertugas di rumah sakit, bencana datang tanpa diduga.

“Pas enam bulan itu, tepatnya 20 November, saya baru rotasi ke rumah sakit. Seminggu setelahnya terjadi bencana,” kenangnya.

Hujan deras selama empat hari empat malam menyebabkan akses jalan terputus. Jembatan hanyut, beberapa desa hilang tersapu arus sungai, dan jaringan komunikasi lumpuh total. Tenaga medis yang bertugas pun tak bisa digantikan.

“Kami terisolasi empat hari di rumah sakit. Jalan di bawah sudah putus semua, jembatan hilang. Tidak ada akses masuk,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan logistik dan persediaan makanan yang menipis, Ananta bersama tim tetap melayani pasien. Mereka bahkan berjaga hingga tiga hari tiga malam tanpa pergantian shift.

Situasi darurat itu juga memaksa para dokter internsip menjalankan dua peran sekaligus: sebagai dokter pelayanan rumah sakit dan sebagai tenaga medis tanggap bencana. Bantuan logistik dan pergantian shift baru tiba pada hari keempat bersama relawan, Direktur Rumah Sakit, dan TNI.

Salah satu momen paling dramatis terjadi saat seorang pasien harus dirujuk ke kota. Karena jembatan penghubung hanyut, tim medis menggunakan tali sling untuk menyeberangi sungai berarus deras. Pasien digendong, lalu berjalan kaki sekitar lima jam menuju titik kendaraan.

“Mereka mengorbankan nyawa demi menyelamatkan pasien. Itu pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan,” katanya.

Akibat bencana, masa internsip yang seharusnya berlangsung satu tahun dipersingkat menjadi delapan bulan. Ananta menyelesaikan program pada Januari 2026.

“Harusnya selesai Mei 2026, tapi Januari 2026 sudah selesai. Jadi bisa lebih cepat kerja,” ujarnya.

Bagi Ananta, pengalaman bertugas di daerah terpencil dan terdampak bencana menjadi pelajaran berharga. Ia menilai pengabdian di wilayah seperti itu justru membentuk ketangguhan dan meningkatkan keterampilan klinis.

“Di daerah terpencil, skill kita sangat terlatih. Dokter sangat dibutuhkan dan dihargai masyarakat. Kita juga lebih dekat dengan warga karena sering turun ke posyandu dan desa-desa,” katanya.

Ia pun berpesan kepada dokter muda lainnya untuk tak ragu mengambil tantangan serupa.(kar)

Related Articles

Back to top button