
Halokubar.com – PT PLN (Persero) menyiapkan langkah besar untuk mengembangkan energi hijau di Kalimantan Timur melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Proyek ini menjadi salah satu bagian penting dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) “terhijau” milik PLN yang menargetkan 1.122 megawatt (MW) energi baru terbarukan di Kaltim hingga tahun 2034.
Kepala PLN UP3 Samarinda, Hendra Irawan, mengatakan PLTA Batoq Kelo diproyeksikan menjadi salah satu sumber listrik utama untuk mendukung kebutuhan energi di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan wilayah industri lainnya di Kalimantan Timur. Potensi tenaga air di Mahulu dinilai sangat besar, namun akses menuju lokasi masih menjadi kendala utama.
“Saat ini jaringan transmisi baru sampai di Kota Bangun dan sedang disiapkan untuk diperpanjang ke Melak. Dari sana ke Mahakam Ulu masih butuh perjalanan sekitar enam jam lewat jalur sungai dan melewati kawasan hutan,” ujar Hendra.
Ia menyebut tantangan utama pembangunan PLTA bukan hanya soal teknis pembangkit, tapi juga perizinan dan pembangunan infrastruktur pendukung. Kondisi geografis yang terpencil membuat proses logistik dan mobilisasi material memerlukan waktu serta biaya tinggi. “Kita juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan agar pembangunan ini memberi manfaat tanpa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Proyek PLTA Batoq Kelo telah masuk dalam daftar prioritas RUPTL PLN dan penandatanganan awal kerja sama dilakukan dua bulan lalu. Saat ini PLN tengah mempersiapkan kajian mendalam terkait desain bendungan, dampak sosial, serta kelayakan finansial proyek tersebut.
PLTA ini diharapkan mampu menjadi tonggak pengembangan energi hijau di pedalaman Kalimantan Timur. Selain mengurangi ketergantungan pada energi fosil, keberadaan pembangkit ini juga akan membuka akses listrik bagi masyarakat Mahakam Ulu yang selama ini masih terbatas.
“Dengan dukungan infrastruktur transmisi dan transportasi yang memadai, PLTA Batoq Kelo bisa menjadi simbol transisi energi bersih dari Kalimantan Timur untuk Indonesia,” tambah Hendra.
PLN menargetkan proyek ini mulai memasuki tahap konstruksi dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan penyelesaian akses jaringan dari Melak menuju Mahulu. Proyek ini juga akan menjadi model integrasi antara pembangunan energi terbarukan dan pemberdayaan ekonomi lokal di kawasan hulu Mahakam.(kar)





