
Halokubar.com – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja Indonesia. Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengungkapkan sebanyak 62 persen pekerja di Tanah Air khawatir teknologi AI akan mengambil alih pekerjaan mereka.
Pernyataan itu disampaikan Hetifah saat menjadi pembicara dalam Workshop Bina Talenta yang digelar Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Sabtu (18/7/2026).
Menurut Hetifah, tingkat kecemasan pekerja Indonesia terhadap perkembangan AI bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.
“Sekarang sudah ada 62 persen pekerja Indonesia yang khawatir kemajuan AI akan menggantikan pekerjaan mereka. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kekhawatiran secara global,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut harus menjadi perhatian mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja. Sebab, persaingan ke depan tidak hanya terjadi antarsesama pencari kerja, tetapi juga dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Karena itu, Hetifah meminta mahasiswa tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun keterampilan yang sulit digantikan AI, seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kreativitas, dan berpikir kritis.
“Berdasarkan data Future of Jobs, keberhasilan seseorang dalam bekerja justru lebih banyak ditentukan oleh soft skills. Itu sebabnya kemampuan tersebut harus terus diasah,” katanya.
Selain itu, Hetifah juga menyoroti masih tingginya ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan yang dijalani masyarakat. Ia menyebut sekitar 60,52 persen pekerja saat ini bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari di bangku kuliah.
Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia usaha dan industri agar lulusan memiliki pengalaman sekaligus kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Ia menambahkan, salah satu kendala terbesar lulusan baru adalah sulit mendapatkan pekerjaan pertama karena minim pengalaman.
“Mahasiswa perlu difasilitasi melalui magang, pelatihan, dan kolaborasi dengan industri agar memiliki bekal sebelum lulus,” ujarnya.
Hetifah menegaskan DPR RI mendukung penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia industri agar lulusan Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus tetap memiliki daya saing di pasar kerja.(kar)