Nasional

BBM Campur Etanol 20% Ditargetkan Jalan di 2028

Halokubar.com – Pemerintah menargetkan implementasi bahan bakar bensin campuran etanol 20 persen atau E20 mulai berjalan pada 2028. Kebijakan ini disiapkan sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus memperkuat pasokan domestik, Senin (04/05/2026), Jakarta.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut konsumsi bensin nasional saat ini mencapai kisaran 39 hingga 40 juta kiloliter setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen masih berasal dari impor.

“Kalau mandatori etanol dua puluh persen berjalan penuh, Indonesia berpotensi menekan impor bensin hingga delapan juta kiloliter per tahun,” ujarnya.

Menurutnya, penerapan E20 sangat memungkinkan karena bahan baku etanol tersedia melimpah di dalam negeri. Komoditas seperti singkong, jagung, dan tebu dinilai mampu menopang kebutuhan produksi secara berkelanjutan.

Ia juga mencontohkan keberhasilan negara lain yang telah lebih dulu menjalankan kebijakan serupa. Pengalaman tersebut menjadi referensi dalam menyusun strategi implementasi di Indonesia.

“Indonesia memiliki sumber bahan baku etanol yang sangat cukup, sehingga program E20 bukan sekadar rencana, melainkan langkah realistis menuju kemandirian energi,” katanya.

Program E20 disebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemerintah dalam menekan impor energi. Sebelumnya, pemerintah dinilai berhasil menekan impor solar melalui kebijakan biodiesel yang diterapkan bertahap.

Pencampuran bahan bakar berbasis minyak sawit saat ini telah mencapai 40 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 50 persen dalam waktu dekat. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi tekanan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

“Keberhasilan biodiesel membuktikan Indonesia mampu mandiri energi, sehingga penerapan etanol dalam bensin juga diyakini dapat berjalan dengan hasil optimal,” tutupnya.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mengkaji diversifikasi sumber energi serta memperluas pasokan minyak mentah dari berbagai kawasan. Langkah ini dilakukan guna menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika pasar global.

Selain itu, pengembangan energi alternatif seperti gas juga terus dilakukan untuk sektor rumah tangga. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan beban subsidi sekaligus memperluas akses energi yang lebih efisien bagi masyarakat.(kar)

Related Articles

Back to top button