Ketua Dekranasda Kubar Dorong Lahirnya Batik Ikonik Daerah Lewat Ajang Desain

Halokubar.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kutai Barat, Maria Christina Mozes Edwin, berharap Lomba Desain Batik Kutai Barat mampu melahirkan motif batik yang menjadi identitas daerah sekaligus kebanggaan masyarakat.
Harapan itu disampaikan saat menghadiri penilaian Lomba Desain Batik Kutai Barat di Aula Dinas Pariwisata Kutai Barat, Kamis (18/6/2026). Maria Christina memantau langsung proses penjurian sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian dan pengembangan wastra lokal.
Menurutnya, lomba tersebut digagas untuk menggali kembali kekayaan motif batik khas Kutai Barat yang selama ini terus berkembang di tengah masyarakat.
“Kita mengetahui batik yang dimiliki Kutai Barat sangat banyak, baik jenis maupun nama motifnya. Karena itu, kami ingin mencari satu desain terbaik yang nantinya bisa menjadi identitas daerah dan digunakan secara luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Maria Christina mengatakan, keberadaan motif batik khas daerah memiliki nilai penting sebagai representasi budaya dan identitas masyarakat. Melalui lomba ini, berbagai unsur budaya dan kearifan lokal Kutai Barat diharapkan dapat dituangkan dalam sebuah karya yang memiliki ciri khas kuat.
Ia menambahkan, desain terbaik hasil kompetisi tersebut akan diperkenalkan kepada masyarakat bertepatan dengan peresmian Gedung Workshop Batik Dekranasda Kutai Barat.
“Desain batik yang terpilih nantinya akan diluncurkan bersamaan dengan peresmian Gedung Workshop Batik di Kantor Dekranasda Kutai Barat,” katanya.
Selain menjadi upaya pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Dekranasda yang akan digelar pada Juli 2026 di Makassar.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata sekaligus Sekretaris Dekranasda Kutai Barat, Christiana Dana Rika, mengatakan lomba mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sejak pendaftaran dibuka pada Maret hingga 10 Juni 2026, sebanyak 21 desain motif batik masuk untuk dinilai.
“Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum. Ini menunjukkan tingginya antusiasme untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan batik khas Kutai Barat,” jelasnya.
Proses penilaian dilakukan oleh dewan juri dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti kekuatan motif, keharmonisan desain, serta kesesuaian deskripsi yang menyertai karya.
Adapun dewan juri terdiri dari Ketua Dekranasda Kutai Barat Maria Christina Mozes Edwin, pelaku seni wastra Kriokng khas Tunjung Lidia Selvi, serta pelaku seni etnis Benuaq Teopilus Junyukng.(kar)





