KaltimSamarinda

Tragedi Siswa SMKN 4 Samarinda, DPRD Soroti Lemahnya Pendataan Bansos

Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak ( TRC PPA) Kaltim Rina Zainun saat mengunjungi rumah duka Mandala, siswa SMK 4 Samarinda, di Jalan Tarmidi Samarinda (Foto: Antara)

Halokubar.com – DPRD Samarinda menyoroti meninggalnya siswa SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Rizky Syahputra (16), yang diduga berawal dari infeksi kaki akibat memakai sepatu sempit selama berbulan-bulan. Peristiwa memilukan tersebut dinilai bukan sekadar musibah keluarga, melainkan gambaran lemahnya pendataan bantuan sosial di Kota Tepian.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, meminta Dinas Sosial segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap data penerima bantuan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

“Kami meminta Dinas Sosial segera memperbaiki validasi penerima bantuan agar warga miskin benar-benar mendapat perhatian serta perlindungan layak,” ujarnya di Samarinda, Senin (7/5/2026).

Ismail menilai masih ada celah besar dalam proses verifikasi warga kurang mampu. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang hidup serba terbatas justru luput dari program bantuan pemerintah.

“Jangan sampai kelemahan pendataan membuat masyarakat miskin terabaikan, padahal mereka sangat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.

Mandala diketahui tinggal bersama ibunya, Ratnasari, di rumah kontrakan kayu sederhana kawasan Jalan Tarmidi Gang 2, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota. Sejak ayahnya meninggal, ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan makanan sederhana.

Ratnasari mengungkapkan ukuran kaki putranya sudah mencapai nomor 44. Namun Mandala tetap memakai sepatu ukuran 40 sejak duduk di kelas satu SMK lantaran keluarga tidak memiliki uang membeli yang baru.

“Setiap hari kakinya merah dan lecet, tetapi Mandala tetap sekolah memakai sepatu sempit karena tidak ingin merepotkan keluarga,” ujarnya.

Agar rasa sakit berkurang, Mandala menyelipkan busa pembungkus buah warna merah muda di bagian ujung sepatu. Meski kaki bengkak dan memerah, ia tetap memaksakan diri berangkat sekolah dan menjalani aktivitas magang sebagai pramuniaga di salah satu pusat perbelanjaan Samarinda.

Kondisi kesehatannya terus menurun setelah menjalani magang dengan aktivitas berdiri seharian. Luka lecet di kaki diduga berkembang menjadi infeksi hingga menyebar ke beberapa bagian tubuh. Nafsu makannya ikut menurun drastis hingga tubuhnya semakin kurus.

Mandala sempat menerima upah magang sebesar Rp840 ribu. Namun seluruh uang tersebut diberikan kepada ibunya untuk membantu biaya kontrakan rumah.

Sebelum meninggal dunia Jumat (24/4/2026) dini hari, Mandala sempat meminta dibelikan sepatu baru kepada ibunya. Namun permintaan sederhana itu belum mampu dipenuhi lantaran kondisi ekonomi keluarga.

Saat Mandala meninggal, Ratnasari mengaku sempat kesulitan mencari ambulans. Bantuan akhirnya datang dari guru SMKN 4 Samarinda bernama Rahmat. Pihak sekolah turut membantu proses pemulasaraan hingga pemakaman siswa tersebut.(kar)

Related Articles

Back to top button